Perjalanan “Kantin Amik”, Pionir SRC yang Kini Beromzet Jutaan Sehari

Viyanti Mala Br Ketaren, pemilik Kanton Amik, pelopor Sampoerna Retail Community Indonesia (Dok. Sampoerna)

“Jangan pernah takut melakukan perubahan. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya”. Kata-kata ini diungkapkan Viyanti Mala Br Ketaren, pemilik Kantin Amik, pelopor Sampoerna Retail Community (SRC) di Indonesia.

Keberanian melakukan perubahan pula yang mengubah usaha yang ditekuni Viyanti menjadi lebih maju. Dari sebuah warung kecil menjadi kantin apik yang tertata rapi, omzet pun meningkat hingga 10 kali lipat.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) milik Viyanti, yang biasa disapa Mami, mulai menggeliat ketika pada 2008 ia memutuskan menerima tawaran untuk bergabung dengan SRC, yang saat itu bernama Medan Retail Community. Warung kecil yang juga menjual aneka minuman dan makanan ringan itu berlokasi di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara.

Awalnya, Mami sempat mempertimbangkan sejumlah hal sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan SRC, di antaranya terkait kontrak dengan perusahaan lain. Akan tetapi, dengan keyakinan dan menganggap tawaran ini sebagai tantangan, ia menerimanya. Mami bersedia tokonya “disulap” dan mengikuti berbagai pelatihan terkait manajemen toko.

Saat itu, tokonya mencatat omzet Rp 500.000 sehari.

“Jadi, pada 2008 itu, datanglah pihak Sampoerna. Ditawarin gabung, waktu itu namanya Medan Retail Community. Awalnya saya tolak, karena belum tahu. Akhirnya, Mami terima karena katanya Kantin Amik ini pilihan satu-satunya,” kata Mami, saat dijumpai beberapa waktu lalu.

Setelah ia menyatakan setuju, keesokan harinya tokonya langsung direnovasi.

“Kayak bedah toko gitu lah. Kaget juga Mami, enggak nyangka,” kenang perempuan kelahiran 19 Juli 1961 ini.

Sejak itu, ia resmi menjadi toko pertama yang bergabung dalam SRC, program pemberdayaan UKM binaan PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna). Sejak diluncurkan pada tahun 2008, kini SRC yang berawal dari Medan telah membina lebih dari 105.000 SRC di seluruh provinsi di Indonesia. 

Selama lebih dari 11 tahun, Sampoerna konsisten memberdayakan UKM di Indonesia melalui SRC. Keberadaan SRC membawa perubahan bagi toko kelontong untuk mengembangkan usaha mereka melalui manajemen tata usaha yang lebih baik. Pendampingan Sampoerna bagi para peritel meliputi edukasi manajemen keuangan, penataan toko, strategi pemasaran, pengembangan SDM, dan lainnya.

Mami pun mulai melakukan pembenahan. Tak ada lagi barang dagangan yang digantung. Semua tertata rapi di rak. Ia juga mempertahankan kedai kopi yang menjadi penopang pemasukan kantinnya. Ruang yang masih tersisa di area kantin disewakannya kepada vendor lain. 

 

Tak takut perubahan

Ketika ditanya lebih jauh alasannya mau mengubah konsep tokonya, Mami mengatakan, prinsip dalam hidupnya adalah jangan pernah takut melakukan perubahan, sepanjang untuk kebaikan.

Ia mengisahkan, awalnya Kantin Amik hanya warung kecil berupa kedai kopi dan kedai nasi yang juga menjual barang-barang kebutuhan lainnya. 

Saat itu, pada 2001, Mami memutuskan meninggalkan kampung halamannya di Tigan Reket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dan mengadu nasib di Medan. Keputusan ini diambil Mami untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, setelah empat tahun sebelumnya, suaminya meninggal dunia.

Suami Mami, Aswin Tarigan, meninggal dunia pada 1997 karena penyakit diabetes yang dideritanya.

“Saat suami saya meninggal 22 tahun lalu, anak-anak saya masih kecil-kecil. Saya lah tulang punggung keluarga. Sebelum dia meninggal, saya juga sudah tulang punggung keluarga karena suami saya sudah sakit diabetes selama 11 tahun, jadi tidak bisa maksimal. Waktu itu anak-anak saya ada yang masih bayi,” kata ibu dua anak ini.

“Jadi, buka kedai nasi, kedai kopi, nanam-nanam, jual kain, apa pun dijalani demi dapat duit untuk keselamatan anak-anak saya,” lanjut Mami.

Ia memilih untuk mengadu nasib ke Medan agar mendapatkan penghasilan yang lebih baik, dan bisa membiayai sekolah kedua anaknya. Kala itu, putri sulungnya, Irma Wido Sriyanti Br Tarigan, tengah menempuh pendidikan S1 di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Sementara, si bungsu, Budiyanto Tarigan, akan memasuki pendidikan menengah atas.

“Kalau Mami tetap di kampung, jualan sambil berladang, pendapatannya tidak tetap. Mami dulu sampai harus pinjam-pinjam untuk biaya sekolah anak. Karena yang satu kan sekolahnya di Jawa, butuh biaya banyak,” cerita dia.

Kini, kedua anaknya memilih berwirausaha, hidup mapan, dan telah berkeluarga. Viyanti pun menjadi nenek dari tiga orang cucu.

“Saya ini memang suka perubahan, kalau untuk jadi lebih baik. Ketika saya buka nasib ke Medan, warung ini masih warung kecil, jelek. Saya kontrak, sampai saat ini pun masih kontrak, karena punya abang sendiri. Tapi sekarang, seperti ini lah, sudah jauh lebih baik,” kata dia.

Ternyata, keputusan Mami merombak Kantin Amik tepat.

“Saya pikir-pikir, kalau saat itu saya tidak jadi bergabung SRC, mungkin usaha tidak seperti itu. Sejak direnovasi, karena toko pertama di SRC, toko saya ini sering dijadikan percontohan,” ujar Mami.

Hal ini pula yang dibagikannya kepada anggota-anggota yang baru bergabung di SRC. Ketua Pembina SRC Medan-1 ini, mengungkapkan, banyak hal yang didapatkan, terutama mengenai manajemen dan pengembangan bisnis.

Bersama anggota-anggota SRC lainnya, Mami saling mendukung untuk berkembang dan maju.

“Bukan cuma omzet ya, yang bertambah. Mami juga dibawa ke mana-mana, saudara jadi banyak, di SRC sahabat Mami semua.” Ujar Viyanti.

 

Kilas balik

Kegigihan dan semangat pantang menyerah dalam menjalankan usaha didapatkan Mami dari ayahnya yang juga seorang pedagang.

Ayahnya juga membuka toko di kampungnya. Dari perjalanan sang ayah, ia melihat bagaimana cara bertahan agar usaha tetap berjalan. Sejak kecil, Mami juga sudah membantu orangtuanya berjualan.

10 x
LIPAT

“Bapak Mami tukang jualan. Saya masih kelas 3 SD sudah bantu grosir (jualan) di kampung,” kata dia.

Menurut Mami, dari apa yang dilihat dan dialaminya, ia belajar bagaimana menghargai setiap rupiah yang dihasilkan. Contohnya, kata Mami, dia akan sangat berhitung untuk membelanjakan uang hasil jerih payahnya jika memang tak terlalu dibutuhkan. Ia sangat detil akan setiap rupiah yang dikeluarkan.

“Karena dagang ini kan unik. Kita kalau enggak mengerti bagaimana pengaturannya, bisa susah sendiri,” ujar dia.

Dari perjalanan panjang dan tetes keringat yang telah dikeluarkannya, harapan Mami sederhana, ia hanya ingin usahanya terus bertahan sehingga memberikan manfaat bagi keluarga dan pekerjanya.

Kisah Sukses Lainnya
Kami menggunakan kuki (dan teknologi serupa lainnya) untuk: mengoperasikan situs dan mengingat preferensi Anda, memperbaiki situs dengan mengumpulkan data mengenai penggunaan oleh Anda, melacak alat Anda di situs ini dan situs-situs lainnya, sehingga kami dapat menawarkan pengalaman pemasaran yang lebih dipersonalisasi, dan mempersonalisasi konten komunikasi kami dengan Anda agar dapat menyesuaikan preferensi Anda. Dengan klik ‘Saya menyetujui semuanya’ Anda menyetujui penggunaan kuki kami ini. Atau jika Anda ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai kuki yang kami gunakan, atau mematikan jenis-jenis tertentu, klik di ‘Ketahui lebih lanjut'. Data pribadi mengenai Anda yang kami kumpulkan akan digunakan seperti yang dijelaskan pada Pemberitahuan Privasi kami. Anda dapat mengganti sewaktu-waktu dengan mengikuti tautan ‘preferensi kuki' yang dapat ditemukan di Pemberitahuan Kuki kami